Selasa, 26 Januari 2016

Ketika Allah bersamaku

Awalnya aku tidak pernah berfikir akan sampai sejauh ini Allah memberikan kuasaNya. Perjalanan hidup yang aku terima dari suratan tanganNya sungguh membuatku percaya akan kuasaNya. Cobaan yang Allah berikan mungkin sesungguhnya sulit untuk aku terima. Tapi ini memang sebuah suratan yang harus aku tanda tangani. 
Rasanya bahagia melihat tawa dan riang nya anak anakku. Mereka sungguh pelipur lara ku. Yang dapat selalu menguatkan aku. Tapi dibalik ceria nya mereka, sungguh aku adalah orang tua yang sesungguhnya gagal membahagiakan mereka. Apakah bisa aku dan suami melihat mereka bahagia, mengenyam pendidikan serta kehidupan yang layak sampai mereka dewasa dan bisa berdiri dengan kehidupan masing2?. 
Kadang hati ini ingin menjerit sejadi-jadinya, bila mengingat kebodohan aku sebagai orang tua. Iyaaa bodohh..., karena aku pesimis dapat membahagiakan mereka. Hati ini sungguh berat luar biasa bila melihat mereka mengeluh. Hati ini sungguh tersiksa bila aku dan suamiku tidak bisa memenuhi apa yang mereka inginkan. Hanya ada kata " maaf nak .." Di dalam hati ini. 
Di antara kepedihan-kepedihan yang aku rasakan, aku belum bisa membungkus hal ini menjadi saru paket jalan kehidupan yang harus ku kirimkan ke masa depan yang cerah. 
Seandainya saja, boleh aku meminta, ku ingin bukan aku yang menjadi orang tua mereka., Yaaa kalimat itu mungkin suatu yang menyakitkan, tapi ini adalag permintaan seorang orang tua yang pesimis bisa membahagiakan anak-anaknya. 
Di sisi lain.., sungguh aku tersiksa bila mengingat suamiku masih berada diluar rumah di saat tengah malam seperti ini.  Sungguh tidak sampai hati oerasaan ini membiarkan ia bergelut dengan kebisingam diluar sana, angin dingin yang menusuk tulang. Seandainya saha..., boleh aku memutar semua Ya Allah....